Wednesday, December 06, 2006

Poligami

Ramenya ini topik sekarang, sampe-sampe Sy juga ikut-ikut mo komen.. :)

Agak bingung ka ini..
Kenapa sih orang-orang pada phobia sama kata yang satu ini.
Kejahatan apakah yang terkandung di dalamnya?
Sepanjang seluruh syarat-syaratnya _yang sangat berat itu_ sudah dipenuhi, ya silahkan mi..
Kalo agama kita sudah mengatur dengan jelas, trus kenapa kita yang dhoif ini berani-beraninya menentangnya?

Blum lagi pemerintah yang berencana mo meluaskan PP10 ke Karyawan Swasta. Nde deh, sudah-sudahmi itu ko zalimi PNS kodong..
Sudah bijakmi itu Perusahaan hanya memberi tunjangan ke Satu Istri dan 3 orang anak saja.

Well, pemikiran kita sekarang mungkin belum bisa menjangkaunya -bukan berarti Sy sudah bisa lho- tapi pasti ada hikmah dibaliknya, bahkan suatu saat mungkin ini adalah solusi kehidupan.

Juga tidak dipungkiriji banyak Lelaki _buaya darat, busyet.._ yang menyalahgunakan ini. Berdalih melakukan sunnah rasul padahal kelakuan Abu Jahal. Konteksnya bukanmi solusi tapi napsu ji. Nah kalo motifnya kayak gini baru cocok kita perangi.

Sy nda berstatus sebagai 'calon' pelaku poligami ji, cuma nda rela saja kalo kita, manusia yang lemah ini, berani menentang Hukum Tuhan. Kita sah-sah saja tidak mau dimadu atau memadu _kata temenku lebih baik dicerai daripada dimadu_, tapi jangan sampai menentang apalagi mengharamkannya..
hiii... Istighfarki Saudaraku...

3 comments:

  1. setuju bosss....
    ini sa kutip dari blog ku (sekalian promosi nih...)

    Sebenarnya saya menganggap berita mengenai pernikahan kedua Aa Gym adalah hal lumrah dan biasa, toh tak ada salahnya ketika seorang lelaki memutuskan - dengan segala pertimbangan - untuk menikah lagi, selama dia mampu dari segi fisik, waktu dan finansial, dan paling utama, merasa mampu berbuat adil buat pasangannya, Why NOT? Dan terlebih ini adalah kepentingan yang sangat INDIVIDUAL, dan bukan suatu persinggungan langsung dengan kepentingan PUBLIK.

    Memang, Abdullah Gymnastiar adalah ulama dan menjadi panutan banyak orang, yang setiap hari bersinggungan dengan umatnya, sehingga bukan hanya perkataan beliau yang didengar, tapi perilaku beliau pun akan menjadi sorotan jamaahnya. Bahkan tanpa beliau inginkan, oleh media sosoknya dijadikan ikon selebritas yang kemudian menjadi penghias tabloid gosip dan infotainment. Olehnya itu, banyak yang secara tanpa sadar beranggapan dan menginginkan sebuah sosok KESEMPURNAAN pada diri Aa Gym. Tidak ada yang salah menurut saya, KESEMPURNAAN merupakan puncak tertinggi dari pencapaian spiritual hamba Allah SWT, dan wajar kalau semua hambaNya menginginkan maqam tertinggi itu. Dan pendapat saya pribadi, keputusan menikah Aa Gym ada hubungannya dengan loncatan maqam spiritual yang hendak beliau jalankan. Dan bukan sekedar persoalan nafsu semata-mata, sebagaimana yang diungkapkan oleh banyak orang yang sinis menanggapi berita ini.

    Namun, yang menjadi pertanyaan saya adalah, apakah definisi dan ukuran KESEMPURNAAN dari seorang jamaah/umat untuk menilai pemimpin/ulama nya? Apakah ukuran itu bebas dari ego dan pendapat pribadi mereka? Mengapa semua orang menganggap steoreotip terhadap perilaku POLIGAMI? Poligami ada dalam hukum Islam. Bahkan juga dibenarkan oleh agama lain; Hindu, Yahudi, Kristen. Silahkan klik ke wikipedia (bahasa Indonesia, dan english).

    Dan kalau tidak mau menganggap diri munafik dan sok suci, poligami jauh lebih mulia dan gentlemen daripada nikah siri, perselingkuhan, perzinaan, ‘jajan’ di lokalisasi dan yang lainnya. Tapi terlepas dari semua itu, sekali lagi saya tekankan; PENDAPAT PRIBADI yang muncul dari kekhawatiran terhadap BAIK dan BURUK hendaknya disingkirkan. Jangan kemudian melakukan generalisasi terhadap semua orang, apalagi kemudian membatasi kepentingan INDIVIDUAL nya untuk meingkatkan kedekatan kepada sang Maha KUASA.

    Saya punya mimpi, seandainya sang Uswatun Hasanah, Rasulullah Muhammad al-Mustafa Abi al-Qasim SAWW hadir ditengah-tengah kita saat ini, dan dengan demikian juga mempraktekkan poligami beliau dengan istri-istrinya, apakah masyarakat akan ‘rela dan ikhlas’ menerima beliau SAWW sebagai junjungan dan rujukan dalam beragama? Nah….

    ReplyDelete
  2. wuih comment-nya lebih komplit dan mantaf dibanding Original post-nya.. Kerenn Daeng...

    ReplyDelete
  3. percaya atau tidak..
    kebanyakan yg setuju sama istilah poligami memang kaum lelaki ji..
    kaum wanita lebih banyak yang lebih tidak memilih untuk setuju poligami hihi..

    ..dan saya tetap tidak mengerti konsep poligami.. and of course I am the one who objection with this kind of thing.
    nda cukup kah kalo cuma satu? ck ck..

    padahal pada awalnya manusia itu diciptakan sepasang ji untuk saling melengkapi.

    saya nda bisa membayangkan juga kalau perempuan yang poliandri hihi
    pasti banyak laki2 yg protes juga tohhh
    maruk kamma hehehe..

    ReplyDelete