Wednesday, January 04, 2017

Gorontalo, Bahagiaku!

4 tahun di Sumbagsel adalah masa-masa tidak 'mempernyamankan' lidahku. Lempah kuning, pindang dan pempek tidak bisaka na kasi bahagia.

Meski lidah tidak bahagia jangan menyangka menguruska. Catat!, makan bahagia dan makan kenyang itu beda. Beda banget. Dan Alhamdulillah Sy punya skill makan banyak meski tidak bahagia.

Lain cerita di sini..

Meski masih berjarak 1 jam terbang ke kampung halaman tapi kuliner nya sudah kembali ke selera asal. Nasi kuning, Sanggara' lame dan Coto siap sedia. Sudah begitu ditambah lagi bonus olahan lokal yang juga matching di lidah: Ilabulo, Olahan tuna (sate, dada, telur, goreng rica), Sambal Sagela (manado: sambal roa) dan Ikan Nike. Hmm.. Assipa'na dottoro'.

Jadi timbangan?
Lupakanmi!.
kabayangkanmi saja makan kenyang plus bahagia itu kayak apa.

:)






Friday, November 18, 2016

Fly back


Di sini ka lagi.. Bumi Allah yang baru. Bumi yang belum pernah ke sini sebelumnya dan sekalina ke sini mukim tong me ka. :)

Setelah 4 tahun dan 4 bulan di bumi Sumatera bagian selatan maka garis hidup kembali membawa ke pulau yg Sy sebut rumah ini. Sebuah kepulangan yang awalnya tidak terbayangkan. Makanya kadang masih merasa takjub juga bisa berada di pulau ini kembali.

Ketika berada di Sumatera perasaan takkala-jauh-ma yang selalu melanda. Kota-kota persinggahan berikutnya tidak menjadi soal, asal lolos kriteria saja. Jadi klo bikin ancar-ancar yg kebayang cuma Jawa. Satu dari dua tanah besar yg belum ditinggali, selain Papua.

Karena perasaan takkala-jauh-ma ini pulalah yg membuat tidak kepikiran ketika ada 'lowongan' untuk berbakti di Sulawesi. Tawaran itu cuma Sy forward ke rekan-rekan sekerja.

Sampai berselang sehari kemudian tetiba ada japrian dari Boss menawarkan lowongan tersebut buat Sy dan langsung Sy sambut dengan.. shock.

Setelah merenung, ngobrol sama keluarga dan curhat dalam istikharah, Sy akhirnya bisa menjawab tawaran Boss dengan mengatakan, "Yes Boss, I'm in!".

O yah, kenapa Sy bisa shock begini ceritanya...

Sering Sy katakan ke teman-teman sekerja klo promosi maka kita tidak milih-milih, ke mana saja mesti siap. Namun beda halnya kalo mutasi, boleh dong kita milih?.

Dan kota ini bukan bagian dari pilihan yang sudah Sy rancang. Pilihan-pilihan yg didasarkan pada kriteria:

  • Seberapa besar potensi berkembang Sy nantinya
  • Challenge-nya baru apa tidak
  • Karier Sy menaik apa tidak
That's my logic thinking.

Dan kemudian benak Sy terisi oleh wajah Mamakku dan "Aha Moment"-ku pun terjadilah. 

"Sy butuh kota ini!".

Bukan lagi karena kriteria-kriteria itu. 

Tapi..
Karena tiba-tiba saja semua itu menjadi tidak penting.
Karena inilah tempat dan peluang yang bisa mendekatkanku dengan Mamakku.
Karena, Mamak, kau selalu segalaku.

Monday, November 03, 2014

Hijrah ke Daratan Sumatera


Hop in ke Daratan Sumatera.
Setelah 2,5 tahun di Pulau Bangka.
Masih di Sumbagsel yakni di ibukota Regional, Palembang.

Assignment totally berbeda dengan yg sudah Sy kerjakan 17 tahun ini.
Ngomongnya sudah bukan jagain signal agar tetap ada.
Ngomongnya menjadi signal yang ada harus selalu yg terbaik.

Bismillah,
Sesungguhnya Sy sangatlah bodoh,
mohon keberkahan, rahmat dan hidayahmu, ya Allah.